Rabu, 12 agustus 2026 atau 28 Safar 1448 Hijriah telah dilaksanakannya Tradisi Safaran di Pantai Desa Kampung Kusamba. ratusan warga dari Desa Kampung Kusamba dan Desa Kampung Gelgel duduk bersila melingkar. Di tengah mereka terbentang daun pisang berisi aneka hidangan. Inilah tradisi Safaran, ritual akhir bulan Safar yang telah turun-temurun dijaga masyarakat pesisir. Tidak seperti perayaan biasa, Safaran di sini punya cita rasa khas persaudaraan. Tradisi ini bukan milik satu desa saja. Warga Kusamba membawa tipat dan bantal - jajanan khas berbahan dasar beras ketan yang legit. Sementara warga Gelgel datang membawa nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Ketika dua hidangan itu disandingkan dan dimakan bersama, itulah yang disebut megibung.
"Megibung ini simbolnya kuat. Kita makan dari satu tempat, tradisi makan bersama khas masyarakat Bali, di mana sekelompok orang duduk melingkar dan menikmati hidangan bersama dari satu wadah atau nampan besar.
Suasana khidmat terasa sejak awal acara. Doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan desa, kelancaran rezeki, dan kerukunan antarumat. Setelah doa, barulah hidangan dibuka. Tawa, obrolan, dan saling suap menyuap antar tetangga mewarnai prosesi makan bersama itu.
Bupati Klungkung, I Made Satria, yang hadir langsung dalam kegiatan ini memberikan apresiasi tinggi. Baginya, Safaran bukan sekadar agenda tahunan."Ini bukan sekadar seremonial, tapi identitas kita. Nilai persaudaraannya menjadi kekuatan besar bagi Klungkung. Di tengah zaman yang serba cepat, tradisi seperti ini yang mengingatkan kita untuk saling menjaga," tegas Bupati Satria. Ia juga menekankan pentingnya regenerasi. Menurutnya, tanpa keterlibatan generasi muda, tradisi ini bisa punah ditelan waktu. "Saya titip ke anak-anak muda. Foto, videokan, ceritakan ke teman-teman. Jaga ini. Karena kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi," lanjutnya.
Sementara itu, Perbekel Kampung Kusamba, Syahrul Ramadan, menyampaikan kabar baik. Saat ini pihaknya bersama Pemkab Klungkung sedang mengusulkan tradisi Safaran untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional tahun 2026."Berkas dan dokumentasi sudah kita siapkan. Harapannya dengan status WBTB, tradisi ini tidak hanya lestari, tapi juga dikenal lebih luas. Orang akan tahu bahwa di Klungkung ada toleransi yang dihidangkan ketupat dan nasi kuning " jelas Syahrul Ramadhan . Usulan WBTB ini dinilai tepat. Sebab Safaran bukan hanya ritual keagamaan, tapi juga praktik sosial yang merawat kebhinekaan. Dua desa dengan latar belakang berbeda bisa duduk satu hamparan, makan satu hidangan.
Hingga sore hari, acara ditutup dengan doa bersama setelah itu bersantap makan bersama (MENGIBUNG)